Sabtu, 11 Agustus 2018

Drama pengumuman Cawapres untuk Pemilu 2019

Akhirnya teka-teki siapa Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang akan mendampingi Pak Jokowi maupun Cawapres Pak Prabowo terjawab. Sebagaimana kita ketahui bersama Pak Jokowi resmi menggandenga Pak Ma'ruf Amin (Ketua MUI) sedangkan Pak Prabowo denan Pak Sandiaga Uno. Namun yang menarik adalah proses panjang yang penuh drama. Drama pengumuman Cawapres pada Pemilu 2019 ini sangat menarik bagi saya karena (menurut saya) ini bisa dijadikan bahan pengetahuan untuk Pemilu 2024, mengingat polanya selalu mirip ditiap Pilpres.


Drama di masa injury time menjelang pengumuman Cawapres 2019 adalah moment yang cukup menegangkan. Beberapa pengamat mengistilahkan ini seperti dalam pertandingan sepak bola, sebelum peluit panjang berbunyi, keadaan masih bisa berubah. Kira-kira seperti itulah perumpamaan dalam drama penetapan Cawapres kali ini.

Setidaknya dalam catatan saya ada beberapa peristiwa menarik yang saya baca dari drama penetapan kali ini, diantaranya adalah :

Mahfud Md Di-PHP Jokowi

Pada hari minggu (15/7) dalam acara Talk Show, Ketua Umum Partai PPP Muhammad Romahurmuziy mengungkapkan kepada publik bahwa Cawapres Pak Jokowi mengerucut pada 10 nama diantaranya adalah : Ketum PPP Romahurmuziy, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Ma'ruf Amin, Din Syamsuddin, Moeldoko,  Mahfud Md, Chairul Tanjung.

Dari sepuluh kandidat tersebut, pada bulan agustus Bang Romi mengungkapkan ke publik bahwa nama Cawapres Pak Jokowi berinisial 'M' dan itu juga benarkan oleh Pak Jokowi. Kemudian publik pun menduga bahwa Cawapres Pak Jokowi adalah Pak Mahfud MD, karena ciri-ciri yang diungkap sebelumnya yaitu wakil ormas islam terbesar dan sangat berpengalaman di Pemerintahan.


Drama berlanjut sesaat menjelang pengumuman, dimana di hampir banyak media memberitakan bahwa pada pagi hari (9/8) Pak Jokowi menghubungi Pak Mahfud untuk meminta kesediaan beliau menjadi Cawapresnya. Sehingga pada saat seluruh Pimpinan partai koalisi berkumpul bersama Pak Jokowi untuk persiapan deklarasi Capres dan Cawapres, Pak Mahfud juga bersiap diri di tempat yang tidak jauh dari lokasi deklarasi. Namun, drama masih berlanjut, beberapa menit menjelang pengumuman Cawapres oleh Pak Jokowi, mulai muncul dinamika tentang perubahan calon Cawapres.

Hingga akhirnya kejutan itu muncul dengan diputuskan dan diumumkan bahwa Cawapres yang akan mendampingi Pak Jokowi adalah Pak Ma'ruf Amin, maka terjawab sudah terkait teka-teki pendamping Pak Jokowi. Publik pun merasa kaget dan terheran kenapa bukan Pak mahfud yang dipilih, masyarakat mulai riuh dengan pilihan Pak Jokowi tersebut.

Bagi Pak Mahfud, ini adalah kali ke-2 beliau diberi harapan palsu oleh Pak Jokowi, mengingat pada tahun 2014 lalu juga beliau digadang-gadang akan dijadikan Cawapres untuk Pak Jokowi namun batal juga.

Dalam kesempatan ini (dengan keterbatasan ilmu) saya juga ikut membuat analisa dan menebak tentang siapa yang akan mendampingi Pak Jokowi menjadi Cawapres. Hal itu saya ungkap melalui twitter saya. Pada saat itu saya merasa bahwa Pak Jokowi akan lebih memilih Pak Ma'ruf dibanding dengan Pak Mahfud.

AHY Gagal Jadi Cawapres Prabowo

Selain drama kegagalan Pak Mahfud menjadi Cawapres Pak Jokowi, drama lain yang tidak kalah seru juga terjadi di kubu Pak Prabowo. AHY yang digadang-gadang akan mendampingi Pak Prabowo, namun rupanya di masa injury time batal dan diganti dengan Pak Sandiaga.

Drama bermula dari kedekatan Demokrat dengan Pak Prabowo beberapa minggu menjelang penetapan, mulai dari saling mengunjungi antara Pak Prabowo dengan Pak SBY kemudian disusul dengan komunikasi politik yang intens antara Demokrat, Gerindran, PAN dan PKS.

Kemudian Pak Prabowo memberikan sinyal bakal mengusung AHY sebagai Cawapres beliau, namun rupanya rencana tersebut ditolak oleh PAN dan PKS. Sehingga PKS membuat manuver dengan mengadakan Ijitimak Ulama dan merekomendasikan nama Cawapres yang direkomendasikan. Dari nama-nama hasil ijitimak ulama yang digagas PKS tidak ada nama AHY sehingga Pak Prabowo mulai mendapatkan tekanan dari partai koalisi lain, utamanya PAN dan PKS.

Sampailah pada dua hari menjelang deklarasi publik dikejutkan dengan cuitan Wasekjend Demokrat yang menyebut Pak Prabowo sebagai Jenderal Kardus. Tidak kalah hebohnya lagi, cuitan lanjutannya adalah ungkapan yang menyatakan bahwa PAN dan PKS telah dibayar (masing-masjng) 500 Miliyar untuk memuluskan langkah Pak Sandiaga sebagai Cawapres Pak Prabowo.

Ketegangan pun masih berlanjut sampai pada deklarasi pengumuman Cawapres oleh Pak Prabowo yang menetapkan Pak Sandiaga Uno sebagai Cawapres beliau. Tentu ini sangat mengecewakan Demokrat yang sudah mengusulkan AHY mengingat elektabilitas AHY termasuk tinggi dibanding kandidat lainnya.

Pemilihan Pak Sandiaga sebagai Cawapres Pak Prabowo adalah kado pahit yang harus diterima oleh AHY di hari ulang tahunnya yang ke-40.

Begitulah drama yang berlangsung menjelang penetapan Cawapres dari masing-masing calon. Saya sendiri menganalisa bahwa Pak Prabowo akan maju bersama Pak Anis, selain itu saya juga menebak bahwa pada akhirnya Pak Prabowo akan mengikuti kemauan PKS dalam menentukan pasangannya. Mengingat dinamika Pilkada DKI saat itu.


    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write komentar