Jumat, 16 Februari 2018

Mengajar Bukan Tugas Guru

Mengajar bukan tugas guru begitulah judul yang sengaja saya ambil untuk artikel ini. Guru adalah sebuah profesi yang tempat kerjanya ada di sekolah, mulai dari TK, SD sampai SMA/SMK/MA. Biasanya ketika sudah lewat tahap sekolah atau perguruan tinggi akan disebut Dosen, bukan Guru lagi. Namun seorang Dosen juga pada akhirnya harus dituntut untuk mengejar gelar Guru yang dalam bahasa kerennya disebut Profesor. Itu adalah jenjang Guru paling paripurna.

Selama ini, kebanyakan dari orang tua akan menyerahkan sepenuhnya proses belajar anak ke sekolah. Jika nilai anak masih (menurut orang tua) jelek, maka anak akan diberikan les tambahan sampai nilainya menjadi bagus.

Guru selalu dijadikan tumpuan para orang tua untuk menjadikan anak-anak mereka pintar. Hal ini terlihat bagaimana sikap orang tua yang menganggap sekolah ibarat sebuah pabrik yang produknya adalah kepintaran untuk anak-anak.

Sehingga timbul beberapa pertanyaan diantaranya adalah, apakah ilmu itu sebatas yang dipelajari di sekolah saja ?
Berapa banyak waktu yang digunakan anak untuk belajar di kelas ?
Dengan waktu yang singkat apakah itu cukup memberinya bekal untuk berjuang melewati hidup ?

Guru dijadikan Manusia Super  yang harus menguasai segala macam. Orang tua selalu menuntut kesempurnaan bagi anaknya. Disisi yang lain, semakin banyak sarjana muda yang terhempas dari kerasnya persaingan zaman.

Lalu apa mau kita salahkam guru jika para sarjana muda ini hanya menjadi pengangguran ?

Persaingan meraih nilai tinggi telah menghilangkan esensi dari pendidikan itu sendiri. Sekolah hanya media, sedangkan hakekat pendidikan adalah pembelajaran. Nilai-nilai pembelajaran disampaikan oleh pengajar.

Apakah pengajar itu Guru ?

Jawabannya tidak, tapi Guru adalah seorang pengajar. Tugas Guru adalah mengajarkan nilai-nilai keilmuan. Namun, mengajar bukan tugas Guru saja.

Kesuksesan anak dalam menyelesaikan pendidikan dan sukses karirnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Jika diperhatikan dengan seksama, anak yang gagal adalah anak yang belajarnya hanya diserahkan ke sekolah. Sehingga anak mencari pengajar lain diluar sekolah.

Beruntung jika pengajarnya yang ditemuinya adalah orang yang memberikan pengetahuan positif, namun jika sebaliknya maka jangan salahkan Guru jika anak mengalami kegagalan dikemudian hari. Orang tua memiliki peran penting dalam mengelola proses pendidikan anak. Sehingga kerjasama yang baik antara orang tua dan guru akan menghasilkan generasi yang berilmu.

Namun, itu saja tidak cukup. Karena Guru memiliki batasan utamanya pengalaman lapangan. Sehingga, membutuhkan para pakar yang telah berkecimpung dan makan asam garam di lapangan (sesuai bidangnya) untuk membagi pengalamannya. Oleh karena itu, mengajar bukan hanya tugas Guru, namun mengajar adalah tugas setiap orang berilmu.

Akhir kata dari artikel ini, saya mengajak rekan-rekan pembaca sekalian untuk dapat meluangkan waktu membagi ilmu maupun menularkan nilai-nilai positif dalam kelas inspirasi. Sehingga generasi yang akan datang adalah generasi yang benar-benar siap menghadapi persaingan zaman.

    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write komentar